….
BUMI ternyata memang sebuah Planet yang SANGAT BESAR dibanding Planet VENUS, MARS, MERCURY dan PLUTO
…….
Bagaimana jika BUMI dibandingkan dengan Planet lainnya dalam Tata Surya Galaxsi Bima Sakti kita ?
BUMI ternyata hanya sebesar Biji Jambu Klutuk
…….
Bagaimana BUMI jika dihadapkan dengan MATAHARI ?
Ternyata BUMI hanya sebuah Titik Noktah
…….
Bagaimana dengan MATAHARI sendiri jika dihadapkan dengan Tata Surya lainnya ?
Ternyata MATAHARI juga hanya Setitik Noktah dibanding ARCTURUS
…….
ARCTURUS sendiri sekarang ada dimana ?
jika dihadapkan dengan benda benda Angkasa lainnya ?
Seperti RIGEL, ALDEBARAN, ETELGUESE, ANTARES dan BERJUTA
benda langit lainnya……? ? ?
Disini MATAHARI hanya sebesar DEBU
ANTARES sendiri adalah Bintang ke 15 yang paling terang di Angkasa. Jaraknya dari BUMI lebih dari 1000 Tahun Cahaya
( Ini baru benda benda angkasa yang mampu teramati oleh para Ilmuwan/Astronom, belum lagi yang jaraknya Puluhan Ribu, Ratusan Ribu, Jutaan, Milyaran Tahun Cahaya dari Planet Bumi tempat kita Berpijak...)
ohhh…. TUHAN
Dimana saya ?
Siapa saya ?
Haruskah saya membusung Dada ?
…
..
.
OOH TUHAN ENGKAU ADA DIMANA ?
Kamis, 28 Oktober 2010
http://sahabatguru.wordpress.com/2007/06/19/nspiring-teacher-visi-hidup-%E2%80%9Cmenjadi%E2%80%9D-bukan-%E2%80%9Cmemiliki%E2%80%9D/
Kasus Pertama
Pak Denis memiliki lima buah mobil dengan harga yang sangat mahal sekali. Namun demikian, hanya dua mobil saja yang biasa dipakainya. Satu mobil digunakan untuk acara refreshing keluarga dan mobil yang satunya lagi digunakan untuk kegiatan kantornya. Mengapa beliau tidak memiliki dua mobil saja yang sering dipakai sesuai kebutuhannya? Mengapa Pak Denis mau mengeluarkan biaya perawatan dan pajak yang besar dari ketiga mobilnya yang tidak pernah dipakai?
Kasus Kedua
Ada seorang petani tua yang bernama Pak Danis. Suatu hari ia menanam pohon asam dan mangga di kebunnya di dekat jalan. Waktu berlalu, pohon itu dirawatnya dengan cermat. Tingkah laku Pak Danis itu membuat aneh seorang saudagar yang lewat. Ia heran kenapa pohon yang baru akan berbuah dan memberikan hasil setelah bertahun-tahun lamanya ditanam oleh Pak Danis? Bukankah Pak Danis sudah tua? Kenapa tidak menanam pohon yang siap panen dalam waktu dekat saja?
Ketika saudagar itu mencoba bertanya kepada Pak Danis dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, lalu apa jawaban dari Pak Danis. Beliau dengan enteng menjawab, ”Saya sekarang sudah ’bau tanah’. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik buahnya.”
Visi hidup ’menjadi’ dan ’memiliki’, itulah yang membedakan antara Pak Denis dan Pak Danis. Pak Denis menganut visi hidup yang berorientasi ’memiliki’, sedangkan Pak Danis memegang kuat visi hidup ’menjadi’.
Ciri utama dari orientasi hidup ’memiliki’ adalah kecenderungan untuk memperlakukan setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki, berarti menguasai dan memperlakukan sesuatu sebagai objek. Orang yang berorientasi ’memiliki’ tidak bisa hidup dengan dirinya sendiri karena bergantung pada simbol-simbol yang menjadi miliknya. Ketika miliknya hilang dari genggamannya, entah itu mobil, rumah, popularitas, jabatan, dan simbol-simbol kepemilikan lainnya, maka bersamaan dengan itu hilang pula eksistensinya.
Orientasi ’menjadi’ mendorong seseorang melakukan sesuatu yang tumbuh dari dirinya sendiri –mengedepankan sikap mau berbagi, memberi, dan berkorban– dengan tujuan untuk membawa perubahan yang berguna dalam tataran sosial kemasyarakatan. Jika melihat sekuntum bunga harum semerbak, seseorang yang berorientasi ’memiliki’ akan memetik bunga itu untuk disimpan di kamarnya agar harumnya bisa dia nikmati sendiri. Tetapi orang dengan visi hidup ’menjadi’ mungkin akan membiarkan bunga itu tumbuh, bahkan menyirami dan memelihara agar setiap orang yang lewat dapat menikmati keharumannya.
Begitu pula dengan dunia pendidikan kita yang membutuhkan sosok guru yang berorientasi hidup ’menjadi’. Mereka memandang profesinya sebagai sarana untuk berinvestasi kebaikan dalam menghasilkan generasi bangsa yang cerdas, terampil, dan mampu bersaing dalam kehidupan masa depan. Mereka tidak memandang profesinya sebagai ladang mencari nafkah kehidupan semata, bahkan lebih dari itu, semua yang mereka miliki diberikannya untuk keberlangsungan perjalananan proses pendidikan yang penuh liku.
Masih adakah guru-guru yang memiliki visi hidup ’menjadi’? Berapa banyakkah guru-guru yang memegang orientasi hidup ’menjadi’? Satu yang pasti, guru yang ’menjadi’ akan mencari kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain, mencari kesenangan dengan cara menyenangkan orang lain. Tetapi guru yang ’memiliki’ akan mencari kebahagiaan dengan cara mengorbankan orang lain. Kita termasuk guru yang mana?
Asep Sapa’at
Pak Denis memiliki lima buah mobil dengan harga yang sangat mahal sekali. Namun demikian, hanya dua mobil saja yang biasa dipakainya. Satu mobil digunakan untuk acara refreshing keluarga dan mobil yang satunya lagi digunakan untuk kegiatan kantornya. Mengapa beliau tidak memiliki dua mobil saja yang sering dipakai sesuai kebutuhannya? Mengapa Pak Denis mau mengeluarkan biaya perawatan dan pajak yang besar dari ketiga mobilnya yang tidak pernah dipakai?
Kasus Kedua
Ada seorang petani tua yang bernama Pak Danis. Suatu hari ia menanam pohon asam dan mangga di kebunnya di dekat jalan. Waktu berlalu, pohon itu dirawatnya dengan cermat. Tingkah laku Pak Danis itu membuat aneh seorang saudagar yang lewat. Ia heran kenapa pohon yang baru akan berbuah dan memberikan hasil setelah bertahun-tahun lamanya ditanam oleh Pak Danis? Bukankah Pak Danis sudah tua? Kenapa tidak menanam pohon yang siap panen dalam waktu dekat saja?
Ketika saudagar itu mencoba bertanya kepada Pak Danis dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, lalu apa jawaban dari Pak Danis. Beliau dengan enteng menjawab, ”Saya sekarang sudah ’bau tanah’. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik buahnya.”
Visi hidup ’menjadi’ dan ’memiliki’, itulah yang membedakan antara Pak Denis dan Pak Danis. Pak Denis menganut visi hidup yang berorientasi ’memiliki’, sedangkan Pak Danis memegang kuat visi hidup ’menjadi’.
Ciri utama dari orientasi hidup ’memiliki’ adalah kecenderungan untuk memperlakukan setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki, berarti menguasai dan memperlakukan sesuatu sebagai objek. Orang yang berorientasi ’memiliki’ tidak bisa hidup dengan dirinya sendiri karena bergantung pada simbol-simbol yang menjadi miliknya. Ketika miliknya hilang dari genggamannya, entah itu mobil, rumah, popularitas, jabatan, dan simbol-simbol kepemilikan lainnya, maka bersamaan dengan itu hilang pula eksistensinya.
Orientasi ’menjadi’ mendorong seseorang melakukan sesuatu yang tumbuh dari dirinya sendiri –mengedepankan sikap mau berbagi, memberi, dan berkorban– dengan tujuan untuk membawa perubahan yang berguna dalam tataran sosial kemasyarakatan. Jika melihat sekuntum bunga harum semerbak, seseorang yang berorientasi ’memiliki’ akan memetik bunga itu untuk disimpan di kamarnya agar harumnya bisa dia nikmati sendiri. Tetapi orang dengan visi hidup ’menjadi’ mungkin akan membiarkan bunga itu tumbuh, bahkan menyirami dan memelihara agar setiap orang yang lewat dapat menikmati keharumannya.
Begitu pula dengan dunia pendidikan kita yang membutuhkan sosok guru yang berorientasi hidup ’menjadi’. Mereka memandang profesinya sebagai sarana untuk berinvestasi kebaikan dalam menghasilkan generasi bangsa yang cerdas, terampil, dan mampu bersaing dalam kehidupan masa depan. Mereka tidak memandang profesinya sebagai ladang mencari nafkah kehidupan semata, bahkan lebih dari itu, semua yang mereka miliki diberikannya untuk keberlangsungan perjalananan proses pendidikan yang penuh liku.
Masih adakah guru-guru yang memiliki visi hidup ’menjadi’? Berapa banyakkah guru-guru yang memegang orientasi hidup ’menjadi’? Satu yang pasti, guru yang ’menjadi’ akan mencari kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain, mencari kesenangan dengan cara menyenangkan orang lain. Tetapi guru yang ’memiliki’ akan mencari kebahagiaan dengan cara mengorbankan orang lain. Kita termasuk guru yang mana?
Asep Sapa’at
http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/07/aku-punya-visi-hidup-kamu/
Salah satu prasyarat kesuksesan seseorang adalah memiliki visi hidup. Dengan memiliki visi, hidup kita akan semakin hidup. Visi hidup akan sangat mempengaruhi dan amat menentukan corak kehidupan seseorang. Saya ingin mengajukan pertanyaan sederhana kepada anda, ”apa Visi hidup anda?.” Dalam kehidupan pribadi, visi hidup bisa bermakna cita-cita, mimpi hidup atau komitmen terbesar.
Yakinlah Jika anda memiliki visi, maka kehidupan anda akan lebih bergairah dan terarah. Mengapa? Karena sesuatu yang masuk ke dalam pikiran kita itu akan mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh. Hormon-hormon itu akan meningkatkan semangat dan daya juang kita.
Ketika saya mengikrarkan bahwa visi hidup saya adalah ingin menjadi panglima pembebas tanah Palestina serta Negeri-Negeri Islam lainnya, Maka baik alam sadar maupun alam bawah sadar saya bergerak menuju kesana. Pikiran akan visi itu menggerakkan ’turbin-turbin’ dalam tubuh saya untuk terus berputar supaya visi itu segera terwujud.
Disisi lain, visi hidup itu bagaikan magnet. Ia akan menarik segala sesuatu yang memiliki ’chemistry’ yang sama. Segala sesuatu yang semula tidak tampak menjadi terlihat jelas di depan mata. Peluang-peluang baru muncul dan terlihat dengan jelas. Bahkan peluang dan kesempatan akan datang tanpa kita undang.
Mari kita merenung sejenak. Merenungkan visi hidup kita yang spesifik. Bila visi hidup sudah ditemukan, maka tuliskanlah. Setelah itu, diskusikanlah dengan teman dan kerabat.
Yakinlah, dengan memiliki visi, hidup kita akan semakin hidup. Bila mulai saat ini kita berjuang mewujudkan visi kita, maka realisasinya hanya tinggal menunggu waktu saja. Jadi renungkanlah, tuliskanlah, diskusikanlah dan ikrarkanlah visi hidup Anda.
So, apa visi hidup anda?
Yakinlah Jika anda memiliki visi, maka kehidupan anda akan lebih bergairah dan terarah. Mengapa? Karena sesuatu yang masuk ke dalam pikiran kita itu akan mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh. Hormon-hormon itu akan meningkatkan semangat dan daya juang kita.
Ketika saya mengikrarkan bahwa visi hidup saya adalah ingin menjadi panglima pembebas tanah Palestina serta Negeri-Negeri Islam lainnya, Maka baik alam sadar maupun alam bawah sadar saya bergerak menuju kesana. Pikiran akan visi itu menggerakkan ’turbin-turbin’ dalam tubuh saya untuk terus berputar supaya visi itu segera terwujud.
Disisi lain, visi hidup itu bagaikan magnet. Ia akan menarik segala sesuatu yang memiliki ’chemistry’ yang sama. Segala sesuatu yang semula tidak tampak menjadi terlihat jelas di depan mata. Peluang-peluang baru muncul dan terlihat dengan jelas. Bahkan peluang dan kesempatan akan datang tanpa kita undang.
Mari kita merenung sejenak. Merenungkan visi hidup kita yang spesifik. Bila visi hidup sudah ditemukan, maka tuliskanlah. Setelah itu, diskusikanlah dengan teman dan kerabat.
Yakinlah, dengan memiliki visi, hidup kita akan semakin hidup. Bila mulai saat ini kita berjuang mewujudkan visi kita, maka realisasinya hanya tinggal menunggu waktu saja. Jadi renungkanlah, tuliskanlah, diskusikanlah dan ikrarkanlah visi hidup Anda.
So, apa visi hidup anda?
http://senyummentari.wordpress.com/2007/10/09/visi-hidup/
Suatu hari saya melihat status Y!M seorang teman saya. Statusnya merupakan sebuah pertanyaan yang pada awalnya saya pikir hanya sebuah pertanyaan klise. Bunyinya begini visi saya masuk surga, kamu? Kontan saja ketika saya pertama kali membaca statusnya saya jawab dalam hati kalo saya juga inginmasuk surga. Dan saya yakin hampir semua orang di dunia ini pasti ingin masuk surga, betul kan?
Tapi begitu saya pikirkan lagi pertanyaannya, ada satu hal yang menggelitik sanubari, yaitu kata VISI. Teman saya itu ingin mengatakan kalo visi hidupnya adalah masuk surga. Dan kata visi itu jelas sangat jauh berbeda dengan hanya keinginan. Kalo hanya keinginan ga ada konsekuensi apapun dan usaha untuk meraihnya, toh itu hanya keinginan semata, hanya mimpi.
Tapi visi berbeda. Jika kita memiliki visi untuk mencapai sesuatu maka segala cara dan kemungkinan harus kita persiapkan dan lakukan untuk meraihnya. Sebagai contoh, jika kita mempunyai visi untuk meraih IP 4 semester ini, maka kita harus mempersiapkan segala faktor pendukung untuk dapat meraih visi kita itu, dan setelah itu kita harus berusaha sekuat mungkin untuk mencapainya. Konsekuensi lainnya adalah hari – hari kita akan diisi dan dipenuhi oleh usaha – usaha kita untuk mencapainya.
Kalo dipikir – pikir lagi ya, ternyata saya sama sekali belum menjadikan masuk surga itu sebagai visi hidup saya. Karena selama ini saya lebih banya mengisi hari – hari saya dengan perbuatan yang malah menjauhkan diri saya dari surga. Ditambah lagi saya belum mempersiapkan faktor – faktor pendukung berupa ilmu yang cukup mengenai cara bagaimana supaya saya bisa masuk surga. Waduh gimana nih, sempet gak ya. Apa saya bisa mempersiapkannya sebelum ajal menjemput saya, hiks (T_T)
Saya merasa bersyukur pada Allah karena telah mengijinkan saya membaca status Y!M teman saya itu dan membuat saya berpikir mengenai visi hidup saya. Dan saya merasa berterima kasih pada teman saya itu yang kata – kata singkatnya telah mengingatkan saya. Makasih ya
JADI SUDAHKAH KITA MEMPERSIAPKAN DIRI KITA UNTUK MASUK SURGA, KALO BELUM MAKA AYO JADIKAN MASUK SURGA SEBAGAI VISI HIDUP KITA, CAIYOO……..!!!
Tapi begitu saya pikirkan lagi pertanyaannya, ada satu hal yang menggelitik sanubari, yaitu kata VISI. Teman saya itu ingin mengatakan kalo visi hidupnya adalah masuk surga. Dan kata visi itu jelas sangat jauh berbeda dengan hanya keinginan. Kalo hanya keinginan ga ada konsekuensi apapun dan usaha untuk meraihnya, toh itu hanya keinginan semata, hanya mimpi.
Tapi visi berbeda. Jika kita memiliki visi untuk mencapai sesuatu maka segala cara dan kemungkinan harus kita persiapkan dan lakukan untuk meraihnya. Sebagai contoh, jika kita mempunyai visi untuk meraih IP 4 semester ini, maka kita harus mempersiapkan segala faktor pendukung untuk dapat meraih visi kita itu, dan setelah itu kita harus berusaha sekuat mungkin untuk mencapainya. Konsekuensi lainnya adalah hari – hari kita akan diisi dan dipenuhi oleh usaha – usaha kita untuk mencapainya.
Kalo dipikir – pikir lagi ya, ternyata saya sama sekali belum menjadikan masuk surga itu sebagai visi hidup saya. Karena selama ini saya lebih banya mengisi hari – hari saya dengan perbuatan yang malah menjauhkan diri saya dari surga. Ditambah lagi saya belum mempersiapkan faktor – faktor pendukung berupa ilmu yang cukup mengenai cara bagaimana supaya saya bisa masuk surga. Waduh gimana nih, sempet gak ya. Apa saya bisa mempersiapkannya sebelum ajal menjemput saya, hiks (T_T)
Saya merasa bersyukur pada Allah karena telah mengijinkan saya membaca status Y!M teman saya itu dan membuat saya berpikir mengenai visi hidup saya. Dan saya merasa berterima kasih pada teman saya itu yang kata – kata singkatnya telah mengingatkan saya. Makasih ya
JADI SUDAHKAH KITA MEMPERSIAPKAN DIRI KITA UNTUK MASUK SURGA, KALO BELUM MAKA AYO JADIKAN MASUK SURGA SEBAGAI VISI HIDUP KITA, CAIYOO……..!!!
visi
Visi Hidup
Visi adalah kemampuan melihat sesuatu di depan mata yang tidak dapat terlihat orang lain. ..
Anda harus membangun visi anda sendiri.
Tanpa visi, hidup anda, bisnis dan usaha anda, pernikahan anda, dan semua hal yang sedang anda tekuni tidak akan pernah maju, membosankan, tidak akan terarah, berputar-putar di tempat, dan tidak akan pernah berubah menjadi lebih baik.
Dalam hal memiliki visi, visi anda harus jelas dan mendetail.
Visi juga harus sebesar-besarnya...
Ada istilah, "gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, supaya jika tidak berhasil 100%, setidaknya anda sampai dibulan!!"..
Dan terbukti bahwa manusia sudah pernah sampai ke bulan
Hidup manusia akan menjadi lebih indah dan lebih berarti ketika selalu memiliki sesuatu yang kita harapkan dan kita kejar di depan.
Jangan membuat visi terlalu kecil atau terlalu mudah dicapai, anda pasti akan cepat berhenti atau tidak cukup semangat mencapainya.
Visi adalah kemampuan melihat sesuatu di depan mata yang tidak dapat terlihat orang lain. ..
Anda harus membangun visi anda sendiri.
Tanpa visi, hidup anda, bisnis dan usaha anda, pernikahan anda, dan semua hal yang sedang anda tekuni tidak akan pernah maju, membosankan, tidak akan terarah, berputar-putar di tempat, dan tidak akan pernah berubah menjadi lebih baik.
Dalam hal memiliki visi, visi anda harus jelas dan mendetail.
Visi juga harus sebesar-besarnya...
Ada istilah, "gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, supaya jika tidak berhasil 100%, setidaknya anda sampai dibulan!!"..
Dan terbukti bahwa manusia sudah pernah sampai ke bulan
Hidup manusia akan menjadi lebih indah dan lebih berarti ketika selalu memiliki sesuatu yang kita harapkan dan kita kejar di depan.
Jangan membuat visi terlalu kecil atau terlalu mudah dicapai, anda pasti akan cepat berhenti atau tidak cukup semangat mencapainya.
VISI
Menentukan Visi Hidup
Seandainya anda berpikir bahwa saya akan bertanya ‘anda mau dikenal sebagai siapa pada 10 tahun mendatang?’ di tulisan ini, maka anda salah. Pertanyaan itu bisa jadi belum pernah anda pikirkan, bisa jadi juga sudah terlalu sering anda renungkan.
Seandainya belum pernah anda pikirkan sama sekali sebelumnya, maka silakan berpikir dan imajinasikan sebaik mungkin. Pesan saya buat anda yang masuk kategori ini, buatlah goal-setting / tujuan yang masuk di akal. Jangan sampai membayangkan 10 tahun mendatang anda ingin menimang-nimang cucu sedangkan hari ini anda belum menikah (kecuali anda menikah dengan seseorang yang sudah punya anak J). Jangan pula membuat goal-setting akan jalan-jalan ke negara paman Sam dan bertemu dengan Elvis Presley idola anda, karena jelas Elvis sudah meninggal (dijamin anda akan cepat depresi alias kecewa karena tidak akan pernah kesampaian).
Tips buat anda yang sedang ingin membuat goal-setting untuk 10 tahun mendatang:
Apa pentingnya tujuan itu bagi anda?
Apa yang terjadi jika tujuan itu tercapai?
Apa yang akan terjadi bila tujuan tersebut tidak tercapai?
Apa yang tidak akan terjadi bila tujuan tersebut tercapai?
Apa yang tidak akan terjadi bila tujuan tersebut tidak tercapai?
Ini bukan aljabar, jadi jangan coba-coba anda anggap pertanyaan no. 2 = no. 5, pertanyaan no. 3 = no. 4. Jawablah 5 pertanyaan itu apa adanya, kalau perlu anda renungkan dulu bersamaan dengan penetapan tujuan di atas.
Seandainya anda sudah terlalu sering merenungkannya, maka saran saya – jangan hanya direnungkan. Pikirkan dan make it real! Jadikan ‘mind to muscle’, terjemahkan apa yang ada di pikiran anda menjadi gerak nyata. Usul saya : jangan biarkan diri anda sendiri yang ambil langkah menjauh dari keberhasilan anda sendiri. Atau saya balik kalimatnya : jangan biarkan keberhasilan meninggalkan anda karena anda tidak peduli, padahal dia sudah berada di sekitar anda.
Jika banyak paragraf di atas dimulai dengan kata ‘seandainya’ (yang juga sama dengan ‘jika’), seandainya anda perhatikan bahwa pertanyaan yang di atas adalah bukan pertanyaan sesungguhnya yang ingin saya tanyakan di tulisan ini, maka sekarang mari kita tidak lagi berandai-andai ria.
Pertanyaan yang sebenarnya ingin saya tanyakan adalah :
‘ Pada 10 tahun mendatang, anda ingin mengenal anda di hari ini sebagai siapa?’
Atau dalam bahasa Inggris :
‘When you look back 10 years later, what will you want to see about you today?’
>> Suatu hari pada 10 tahun mendatang, ketika anda mengenang kembali masa-masa sekarang .. apa yang ingin anda kenang? Anda ingin melihat siapa diri anda saat ini? Silahkan berpikir dan memilih ….
Dari berbagai sumber
Rahmadsyah
Personal Development Trainer
Seandainya anda berpikir bahwa saya akan bertanya ‘anda mau dikenal sebagai siapa pada 10 tahun mendatang?’ di tulisan ini, maka anda salah. Pertanyaan itu bisa jadi belum pernah anda pikirkan, bisa jadi juga sudah terlalu sering anda renungkan.
Seandainya belum pernah anda pikirkan sama sekali sebelumnya, maka silakan berpikir dan imajinasikan sebaik mungkin. Pesan saya buat anda yang masuk kategori ini, buatlah goal-setting / tujuan yang masuk di akal. Jangan sampai membayangkan 10 tahun mendatang anda ingin menimang-nimang cucu sedangkan hari ini anda belum menikah (kecuali anda menikah dengan seseorang yang sudah punya anak J). Jangan pula membuat goal-setting akan jalan-jalan ke negara paman Sam dan bertemu dengan Elvis Presley idola anda, karena jelas Elvis sudah meninggal (dijamin anda akan cepat depresi alias kecewa karena tidak akan pernah kesampaian).
Tips buat anda yang sedang ingin membuat goal-setting untuk 10 tahun mendatang:
Apa pentingnya tujuan itu bagi anda?
Apa yang terjadi jika tujuan itu tercapai?
Apa yang akan terjadi bila tujuan tersebut tidak tercapai?
Apa yang tidak akan terjadi bila tujuan tersebut tercapai?
Apa yang tidak akan terjadi bila tujuan tersebut tidak tercapai?
Ini bukan aljabar, jadi jangan coba-coba anda anggap pertanyaan no. 2 = no. 5, pertanyaan no. 3 = no. 4. Jawablah 5 pertanyaan itu apa adanya, kalau perlu anda renungkan dulu bersamaan dengan penetapan tujuan di atas.
Seandainya anda sudah terlalu sering merenungkannya, maka saran saya – jangan hanya direnungkan. Pikirkan dan make it real! Jadikan ‘mind to muscle’, terjemahkan apa yang ada di pikiran anda menjadi gerak nyata. Usul saya : jangan biarkan diri anda sendiri yang ambil langkah menjauh dari keberhasilan anda sendiri. Atau saya balik kalimatnya : jangan biarkan keberhasilan meninggalkan anda karena anda tidak peduli, padahal dia sudah berada di sekitar anda.
Jika banyak paragraf di atas dimulai dengan kata ‘seandainya’ (yang juga sama dengan ‘jika’), seandainya anda perhatikan bahwa pertanyaan yang di atas adalah bukan pertanyaan sesungguhnya yang ingin saya tanyakan di tulisan ini, maka sekarang mari kita tidak lagi berandai-andai ria.
Pertanyaan yang sebenarnya ingin saya tanyakan adalah :
‘ Pada 10 tahun mendatang, anda ingin mengenal anda di hari ini sebagai siapa?’
Atau dalam bahasa Inggris :
‘When you look back 10 years later, what will you want to see about you today?’
>> Suatu hari pada 10 tahun mendatang, ketika anda mengenang kembali masa-masa sekarang .. apa yang ingin anda kenang? Anda ingin melihat siapa diri anda saat ini? Silahkan berpikir dan memilih ….
Dari berbagai sumber
Rahmadsyah
Personal Development Trainer
Langganan:
Postingan (Atom)
